SUARATAHURI.COM – Ambon,Isu kebebasan perempuan di tengah dinamika sosial dan nilai-nilai agama menjadi topik hangat yang dibahas dalam kegiatan Woman Talk yang digelar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Ambon Komisariat KIP Universitas Pattimura, Kamis (12/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Rektorat Lantai 2 Universitas Pattimura, Ambon ini mengangkat tema “Perempuan dengan Kebebasannya antara Tuntutan Zaman dan Agama”. Diskusi tersebut merupakan kolaborasi antara Bidang Pengkajian dan Penalaran bersama Bidang Pemberdayaan Perempuan Komisariat KIP-Unpatti.
Forum diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Zunaria, aktivis perempuan, serta Apriliska Titahena (Ua Ika Lattu) yang dikenal sebagai aktivis perempuan dan lingkungan. Diskusi dipandu oleh Jongkie Linansera, Sekretaris Fungsional Bidang Pengkajian dan Penalaran Komisariat KIP-Unpatti.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa, kader GMKI, perwakilan Korps PMII Putri (KOPRI) KIP, serta peserta umum yang aktif terlibat dalam dialog dan diskusi terbuka mengenai berbagai dinamika yang dihadapi perempuan saat ini.
Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti bahwa perempuan saat ini menghadapi situasi yang cukup kompleks. Di satu sisi, perkembangan zaman membuka peluang yang semakin luas bagi perempuan untuk berkiprah dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, sosial, hingga ruang kepemimpinan.
Namun di sisi lain, perempuan juga sering berhadapan dengan konstruksi sosial dan budaya yang masih membatasi ruang geraknya. Bahkan, tidak jarang perdebatan mengenai kebebasan perempuan juga dikaitkan dengan cara pandang masyarakat terhadap nilai-nilai agama.
Para narasumber menegaskan bahwa kebebasan perempuan harus dimaknai secara bijak. Kebebasan bukan berarti tanpa batas, tetapi harus disertai kesadaran moral, tanggung jawab sosial, serta komitmen untuk memberikan kontribusi positif bagi kehidupan bermasyarakat.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan dari peserta terkait pengalaman perempuan menghadapi stereotip gender, tekanan sosial, hingga tantangan mempertahankan identitas serta nilai spiritual di tengah perubahan sosial yang terus berkembang.
Sementara itu, Ketua Komisariat KIP Unpatti dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kegiatan Woman Talk menjadi bagian penting dari upaya membangun ruang dialog kritis di kalangan mahasiswa, khususnya terkait isu perempuan dan kesetaraan.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya sekadar diskusi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan masyarakat.
“Kami berharap melalui kegiatan ini mahasiswa dapat memiliki perspektif yang lebih terbuka dan kritis terhadap isu-isu perempuan, serta mendorong lahirnya generasi yang mampu memperjuangkan nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa GMKI sebagai organisasi kader akan terus mendorong ruang-ruang diskusi akademik yang membangun kesadaran sosial mahasiswa agar lebih peka terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan ini, GMKI Komisariat KIP-Unpatti berharap mahasiswa tidak hanya memahami isu perempuan secara teoritis, tetapi juga mampu mengambil peran nyata dalam mendorong pemberdayaan perempuan dan terciptanya masyarakat yang lebih adil, setara, dan inklusif.(JM-02)















