SUARATAHURI.COM — Waetina, Namlea,Dunia pendidikan di Kabupaten Buru kembali bergetar. Insiden memalukan sekaligus mengerikan terjadi di SD Inpres Desa Waetina, Kecamatan Waelata, Kabupaten BURU, ketika seorang kepala sekolah diduga melakukan tindakan kekerasan brutal terhadap seorang murid hingga mengalami luka berdarah di kepala.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 10.00 WIT. Anak-anak yang tengah bermain sepeda dan berlari-lari di halaman sekolah — sesuatu yang menjadi kebiasaan mereka saat tidak ada kegiatan belajar — tiba-tiba menjadi sasaran kemarahan kepala sekolah.
Begitu tiba di lokasi, kepala sekolah langsung memarahi para siswa. Namun teguran tak berhenti di situ. Menurut beberapa saksi mata, kepala sekolah tersebut justru melepaskan pukulan keras ke kepala seorang siswa, Haikal Nurlatu. Pukulan itu menyebabkan benjolan dan darah mengalir di kepala Haikal.
Beta liat sendiri! Dia pukul anak tu keras sekali! Anak langsung pegang kepala, darah sudah keluar,” ujar salah seorang saksi yang tak dapat menyembunyikan rasa marahnya.
Keluarga Haikal langsung bereaksi keras. Mereka mengecam tindakan kepala sekolah yang dinilai sangat biadab dan tidak mencerminkan sikap seorang pendidik.
Ini kepala sekolah atau preman? Pukul anak sampai berdarah begitu! Kami mau dinas pendidikan copot dia hari ini juga! Jangan tunggu besok!” tegas keluarga korban dengan suara penuh amarah.

Masyarakat Waetina yang mendengar peristiwa tersebut pun ikut tersulut emosinya. Mereka menilai tidak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan kekerasan terhadap anak, apalagi dilakukan oleh seorang kepala sekolah.
Desakan Mengarah ke Dinas Pendidikan: “Jika Tidak Dicopot, Kami Turun Jalan!”
Dinas Pendidikan Kabupaten Namlea kini menjadi sorotan tajam. Warga dan keluarga korban mendesak agar kepala sekolah tersebut segera dicopot dari jabatannya sebelum kemarahan masyarakat semakin membesar.
Kami tunggu sikap tegas dari dinas. Kalau tidak ada tindakan, jangan salahkan masyarakat kalau turun jalan!” kata salah satu tokoh warga Waetina.
Hingga berita ini diturunkan, kepala sekolah belum memberikan klarifikasi apa pun. Sementara keluarga korban disebut sedang mempertimbangkan laporan polisi untuk membawa kasus ini ke ranah hukum.
Kasus ini menjadi warning keras bahwa kekerasan terhadap siswa tidak boleh lagi ditoleransi. Dunia pendidikan seharusnya menjadi tempat anak-anak tumbuh, bukan menjadi arena kekerasan.(NR)















